Laga Iran vs Guam Terancam Batal Hanya Karena Visa

Guam

Laga Internasional antara Iran vs Guam dijadwalkan berlangsung pada 3 September mendatang, tapi visa untuk masuk ke Iran belum kunjung dipegang para pemain bola asal negara Pasifik Barat itu, yang secara resmi merupakan wilayah Amerika Serikat.

Proses pemberian visa bagi anggota tim sepak bola nasional Guam telah ditunda selama dua minggu menjelang pertandingan kualifikasi, menyebabkan seorang pejabat Guam mengatakan ketegangan politik antara AS dan Republik Islam Iran seharusnya tidak mempengaruhi olahraga.

Matão, tim sepak bola nasional untuk wilayah AS di Guam, dijadwalkan akan bertanding melawan Iran pada 3 September dalam pertandingan kualifikasi Grup D Piala Dunia, tetapi tim hingga hari ini belum mendapatkan visa yang dibutuhkan.

Presiden Asosiasi Sepakbola Guam Richard K. Lai mengatakan Asosiasi Sepak Bola Iran telah memberi mereka “janji-janji kosong,” dan jika situasi tidak segera diselesaikan, ketiadaan visa bisa menghalangi pemain Guam untuk berkunjung ke Iran.

Guam memulai proses memperoleh visa ke Iran pada bulan Juni dan diberitahu hanya baru-baru ini saja oleh asosiasi sepak bola setempat bahwa itu akan butuh 21 hari untuk mendapatkan kode otorisasi guna mendapatkan paspor mereka dicap dengan visa, kata Lai.

Mereka semula diberitahu bahwa itu hanya butuh tujuh hari, dan Matão telah merencanakan sebuah kamp pelatihan di Qatar seminggu sebelum pertandingan dengan Iran, katanya..

“Kami meminta mereka untuk meneruskan semua referensi nomor visa ke Kedutaan Besar Iran di Qatar. Mereka mengatakan bahwa itu tidak mungkin karena kamp pelatihan hanya lima hari dan kemudian dibutuhkan tujuh hari untuk mendapatkan visa,” kata Lai.

Tim kemudian mengirim paspor ke delegasi Guam di Washington, DC, untuk memproses paspor melalui Kedutaan Besar Pakistan, yang menangani kepentingan Iran di AS sejak kedua negara tidak lagi memiliki hubungan formal.

Namun para pejabat Guam pekan ini memutuskan untuk mengubah lokasi kamp pelatihan ke Jepang, dan tiba-tiba meminta agar paspor dikembalikan dulu oleh Iran agar mereka bisa memproses dokumen masuk untuk kamp pelatihan di Osaka.

Lai berharap Asosiasi Sepak Bola Iran, sponsor perjalanan mereka ke Republik Islam Iran, bisa mengintervensi dan Iran memberikan visa kepada kepada para pemain pada saat kedatangan.

“Mereka memberi visa saat kami datang pada tahun 2003 ketika kami kalah dari mereka 19-0,” katanya. “Mengapa sekarang sulit sekali?”

Dia tidak tahu pasti apa konsekuensinya jika pertanding tidak dimainkan pada 3 September

“Itu sesuatu yang harus diputuskan oleh FIFA dan AFC. Bagaimana memperbaiki situasi? Mungkin kita harus menjadwalkan ulang pertandingan di tempat lain, saya tidak tahu,” katanya.

“Saya tahu bahwa Amerika Serikat dan negara Iran memiliki perbedaan politik tetapi hal itu seharusnya tidak mempengaruhi pemain untuk mendapatkan visa guna bermain sepak bola,” kata Lai. Matão sejauh ini telah memiliki perjalanan yang mendebarkan selama laga-laga kualifikasi Piala Dunia 2018. Di

stadion kandang di Guam, 5.000 penonton bersorak saat tim Guam mengalahkan India dan Turkmenistan pada bulan Juni.

Pertandingan kandang Guam berikutnya akan berlangsung pada 8 September, ketika menjadi tuan rumah untuk Oman.

Sekitar 160.000 orang tinggal di Guam, sebuah pulau sekitar 3.700 kilometer sebelah timur laut Indonesia. Penduduknya secara resmi adalah warga Amerika Serikat, tetapi mereka tidak dapat memberikan suara untuk pemilihan presiden negara Paman Sam itu.