Barcelona dan Bayern Munchen Akan Menghindari United

van Gaal2

Louis van Gaal mengatakan kalau Barcelona dan Bayern Munchen takut berada satu grup dengan Manchester United di fase grup Liga Champions.

United menang 4-0 kontra Club Brugge dalam leg kedua babak kualifikasi turnamen tertinggi di level klub sepak bola Eropa itu. Jelang pengundian peserta grup, Kamis (27/8/2015) malam WIB, Van Gaal mengatakan kalau kedua mantan klubnya tak akan mau bertemu dengan tim besutannya. Setan Merah memang berpeluang bertemu dengan dua klub itu lantaran mereka tergabung di pot 2 bersama Real Madrid, Atlético Madrid, Porto, Arsenal, Valencia, Bayer Leverkusen, dan Manchester City.

“Saya pikir mereka tidak ingin bertemu dengan kami di fase grup. Sejauh apa kami akan melangkah di Liga Champions? Kita harus menunggu dan melihatnya. Tentu saja kelolosan ini membuat suporter dan skuat sangat bahagia,” jelas Van Gaal ketika diwawancarai BT Sport.

“Namun sekarang partai penting kami adalah menghadapi Swansea City di Premier League, Minggu (20/8/2015). Tahun lalu kami kehilangan enam poin dari mereka dan tim harus memperbaiki performanya.”

Ditanya apakah dia akan hadir pada acara pengundian peserta grup Liga Champions di Monaco, mantan pelatih Bayern Munchen itu malah mengaku tak akan datang. Van Gaal lebih memilih untuk mencoba memantau perkembangan anak asuhnya di tim cadangan.

“Saya akan melewatkannya karena delapan pemain bermain kontra Ajax dalam partai persahabatan. Saya akan memantau secara langsung. Saya pikir itu lebih penting karena saya tidak punya kuasa untuk menentukan siapa lawan yang akan dihadapi Manchester United,” kata Van Gaal.

Pekan-pekan ini juga menjadi momen membahagiakan bagi Louis van Gaal. Alasannya karena Wayne Rooney mengakhiri kemandulannya dalam 10 partai terakhir dengan mencetak hat-trick kontra Brugge. Rooney yang tak kunjung mencetak gol pada awal laga yang sudah dilakoni United kembali menunjukkan kelasnya.

“Wayne Rooney punya mental sangat kuat dan dengan level yang dimilikinya, dia bisa bangkit. Namun perjalanan kembali ke performa semula masih jauh. Tapi tentu saja saya bahagia terkait pencapaiannya.”

Laga Iran vs Guam Terancam Batal Hanya Karena Visa

Guam

Laga Internasional antara Iran vs Guam dijadwalkan berlangsung pada 3 September mendatang, tapi visa untuk masuk ke Iran belum kunjung dipegang para pemain bola asal negara Pasifik Barat itu, yang secara resmi merupakan wilayah Amerika Serikat.

Proses pemberian visa bagi anggota tim sepak bola nasional Guam telah ditunda selama dua minggu menjelang pertandingan kualifikasi, menyebabkan seorang pejabat Guam mengatakan ketegangan politik antara AS dan Republik Islam Iran seharusnya tidak mempengaruhi olahraga.

Matão, tim sepak bola nasional untuk wilayah AS di Guam, dijadwalkan akan bertanding melawan Iran pada 3 September dalam pertandingan kualifikasi Grup D Piala Dunia, tetapi tim hingga hari ini belum mendapatkan visa yang dibutuhkan.

Presiden Asosiasi Sepakbola Guam Richard K. Lai mengatakan Asosiasi Sepak Bola Iran telah memberi mereka “janji-janji kosong,” dan jika situasi tidak segera diselesaikan, ketiadaan visa bisa menghalangi pemain Guam untuk berkunjung ke Iran.

Guam memulai proses memperoleh visa ke Iran pada bulan Juni dan diberitahu hanya baru-baru ini saja oleh asosiasi sepak bola setempat bahwa itu akan butuh 21 hari untuk mendapatkan kode otorisasi guna mendapatkan paspor mereka dicap dengan visa, kata Lai.

Mereka semula diberitahu bahwa itu hanya butuh tujuh hari, dan Matão telah merencanakan sebuah kamp pelatihan di Qatar seminggu sebelum pertandingan dengan Iran, katanya..

“Kami meminta mereka untuk meneruskan semua referensi nomor visa ke Kedutaan Besar Iran di Qatar. Mereka mengatakan bahwa itu tidak mungkin karena kamp pelatihan hanya lima hari dan kemudian dibutuhkan tujuh hari untuk mendapatkan visa,” kata Lai.

Tim kemudian mengirim paspor ke delegasi Guam di Washington, DC, untuk memproses paspor melalui Kedutaan Besar Pakistan, yang menangani kepentingan Iran di AS sejak kedua negara tidak lagi memiliki hubungan formal.

Namun para pejabat Guam pekan ini memutuskan untuk mengubah lokasi kamp pelatihan ke Jepang, dan tiba-tiba meminta agar paspor dikembalikan dulu oleh Iran agar mereka bisa memproses dokumen masuk untuk kamp pelatihan di Osaka.

Lai berharap Asosiasi Sepak Bola Iran, sponsor perjalanan mereka ke Republik Islam Iran, bisa mengintervensi dan Iran memberikan visa kepada kepada para pemain pada saat kedatangan.

“Mereka memberi visa saat kami datang pada tahun 2003 ketika kami kalah dari mereka 19-0,” katanya. “Mengapa sekarang sulit sekali?”

Dia tidak tahu pasti apa konsekuensinya jika pertanding tidak dimainkan pada 3 September

“Itu sesuatu yang harus diputuskan oleh FIFA dan AFC. Bagaimana memperbaiki situasi? Mungkin kita harus menjadwalkan ulang pertandingan di tempat lain, saya tidak tahu,” katanya.

“Saya tahu bahwa Amerika Serikat dan negara Iran memiliki perbedaan politik tetapi hal itu seharusnya tidak mempengaruhi pemain untuk mendapatkan visa guna bermain sepak bola,” kata Lai. Matão sejauh ini telah memiliki perjalanan yang mendebarkan selama laga-laga kualifikasi Piala Dunia 2018. Di

stadion kandang di Guam, 5.000 penonton bersorak saat tim Guam mengalahkan India dan Turkmenistan pada bulan Juni.

Pertandingan kandang Guam berikutnya akan berlangsung pada 8 September, ketika menjadi tuan rumah untuk Oman.

Sekitar 160.000 orang tinggal di Guam, sebuah pulau sekitar 3.700 kilometer sebelah timur laut Indonesia. Penduduknya secara resmi adalah warga Amerika Serikat, tetapi mereka tidak dapat memberikan suara untuk pemilihan presiden negara Paman Sam itu.

Bek Tangguh MU Waspadai 2 Striker Ini

smalling

Musim Lalu, Chris Smalling merupakan bek paling tangguh di Manchester United. Dia melakukan 163 clearances, 16 blok dan 58 intersep di lini pertahanan United.

Selain itu, dengan postur 194 cm, Smalling sangat tangguh dalam duel udara. Buktinya, dia memenangkan 67 duel dari 102 pertarungan dengan tingkat keberhasilan sebesar 66 persen untuk bola – bola atas United.

Meski sangat tangguh dengan catatan statistik yang cemerlang diantara barisan bek United, Smalling rupanya takut dengan dua striker haus gol yang sudah malang melintang di Liga Premier Inggris. Striker yang pertama ditakutinya adalah legenda Chelsea, Didier Drogba.

Striker yang kini berusia 37 tahun itu sudah bermain di Liga Amerika Serikat. Selama di Liga Premier Inggris, Drogba mencetak 104 gol dari 254 penampilan.

“Saya merupakan bek yang tangguh dan dapat diandalkan. Tapi, ketika saya masih memperkuat Fulham pada periode 2008-2010, Didier Drogba sangat tajam di masa jayanya,” ungkap Smalling, dikutip dari Squaka.

“Drogba besar dan kuat. Ketika saya harus melawannya pada tahun lalu, dia masih memiliki kecepatan yang sama ketika berhadapan dengan saya di Fulham, tidak ada yang berubah dari performa dan kualitasnya.  Sedikit lengah, akan membawa dampak negatif untuk tim yang saya bela” sambungnya.

Striker kedua yang ditakuti bek asal Inggris itu adalah penyerang Manchester City, Sergio Aguero. Gerakan Aguero sangat sulit dihentikan oleh Smalling.”Saya pikir, Aguero punya kelebihan dengan gerakan – gerakannya, baik ketika dia sedang mengontrol bola, ataupun tanpa bola. Drogba besar dan kuat, tapi Aguero tidak bisa Anda dekati, pergerakannya sangat sulit ditebak” jelas Smalling.

“Sebagai bek central, dia selalu membuat anda khawatir, anda tidak bisa mengetahui dimana keberadaannya. Terlebih lagi dia sering bermain di kotak penalti, itu sungguh menyulitkan untuk menjaga dia, walau melepas pandangannya sekitar satu dua detik, dia sudah menghilang ataupun sudah siap untuk mencetak gol. Dibutuhkan tingkat focus yang tinggi jika saya berhadapan dengan salah satu dari mereka” tegas bek berusia 25 tahun tersebut.

Sejak memperkuat City pada tahun 2011, Aguero sudah mencetak 78 gol dari 120 penampilan di Liga Premier Inggris.

Stefano Sturaro, Petarung Baru di Lini Tengah Juventus

sturaro118

Supercoppa Italia 2015 sudah berakhir dengan Juventus yang menjadi pemenangnya. Banyak orang yang memuju penampilan Mario Mandzukic dan Paulo Dybala yang sukses mencetak gol pada debut pertamanya. Tidak terkecuali man of the match pada pertandingan itu, Paul Pogba atas penampilannya selama pertandingan.

Namun sebenarnya, ada satu sosok lain yang juga berperan besar dalam menumbangkan Lazio dengan skor 2-0 tersebut. Dan sosok tersebut ditunjukkan oleh gelandang berusia 22 tahun yang musim lalu sempat membela Genoa, Stefano Sturaro.

Dalam skema 3-5-2 ala Juventus,  Sturaro mengisi tempat yang ditinggalkan Arturo Vidal. Jika pada musim lalu pos gelandang tengah di sisi sebelah kanan diisi oleh Vidal, kali ini pemilik nomor 27 Juventus ini dicoba untuk menyeimbangkan lini tengah Juventus sejak menit pertama. Dan ia melakukannya dengan sangat baik.

Penampilan Sturaro memang tak seimpresif Paul Pogba pada laga tersebut.  Sturaro bahkan hanya melepaskan 22 kali operan, setengah dari yang dilepaskan Claudio Marchisio dan Pogba.

Tapi peran yang diemban Sturaro pada laga ini sendiri merupakan lebih sebagai perebut bola ketimbang pengumpan meski diplot sebagai box-to –box midfielder layaknya Vidal. Hal ini dikarenaka ia hanya sesekali merangsek ke dekat kotak penalti untuk melepaskan tembakan ke gawang atau operan pada para penyerang Juventus, di mana Vidal sebaliknya.

Meskipun begitu, Sturaro tahu kapan ia harus kembali ke  lini tengah dan kapan harus ikut membantu lini serang. Ini dibuktikan meskipun ia jarang terlibat dalam serangan Juventus , Sturaro menjadi pemberi assist bagi gol pertama Juve yang diciptakan Mandzukic.

Sturaro bergerak ke sisi sayap kanan ketika Stephan Lichtsteiner tak bisa melakukan penetrasi karena menjaga sisi kanan Juventus dalam mengantisipasi kecepatan Felipe Anderson. Menerima operan dari Lichtsteiner, Sturaro kemudian memberikan umpan matang, tipikal umpan yang biasanya dilepaskan Lichtsteiner, pada Mandzukic.

Tak hanya sampai di situ, Sturaro pun terlibat dalam skema pada gol kedua Juve. Menerima umpan dari Pogba, Sturaro-lah yang kemudian memberikan umpan pada Mandzukic. Mandzukic meneruskannya dengan aksi melewati satu pemain Lazio dan memberikan umpan silang pada Pogba yang sudah berada di kotak penalti. Pogba lantas memberikan umpan pendek pada Dybala yang tak terkawal.

Atas Performa impresifnya yang bisa dikatakan stabil dan konsisten, pada musim ini tampaknya Sturaro akan banyak mendapatkan kesempatan bermain. Dengan mentalnya yang tak canggung dalam menghadapi big match seperti saat menghadapi Lazio, Real Madrid atau Napoli di mana ia mencetak gol pertamanya bagi Juventus, Sturaro tampaknya bisa diplot sebagai pengganti ideal atas kepergian Vidal dan cederanya Sami Khedira.

Bale Buka Suara Tentang Posisi Idealnya

Madrid's Welsh midfielder Gareth Bale plays the ball during the Audi Cup football match Real Madrid vs Tottenham Hotspur in Munich, southern Germany, on August 4, 2015. The Audi Cup football matches with Bayern Munich of Germany, Real Madrid of Spain, AC Milan of Italy and Tottenham Hotspur of England will take place in Munich on August 4 and August 5, 2015. AFP PHOTO / CHRISTOF STACHE

Pemain asal Wales, Gareth Bale buka suara terkait posisi idealnya saat beraksi di atas lapangan. Pemain termahal dunia itu menilai bermain sebagai second striker atau berada di belakang penyerang merupakan posisi yang bisa mengembangkan permainannya.

Bisa saja komentar itu merupakan sinyal agar pelatih Real Madrid, Rafael Benitez, menempatkannya di posisi tersebut pada kompetisi musim depan. Sejatinya tanpa meminta pun, Benitez bakal menaruh pemain dengan kecepatan tinggi itu pada posisi tersebut.

Terlihat saat Madrid mengalahkan mantan klubnya, Tottenham Hotspur, dengan skor 2-0 dalam laga Audi Cup, Rabu 5 Agustus 2015 dini hari WIB. Saat itu, ia ditempatkan di belakang ujung tombak Los Blancos, Jese Rodriguez.

Tak perlu waktu lama bagi Benitez untuk melihat perubahan penampilan Bale yang sempat diejek fans Madrid sepanjang musim lalu karena tampil tak optimal. Di laga tersebut, ia sanggup mencetak satu gol sekaligus mengantarkan timnya ke babak final turnamen pramusim itu. Peran dan permainan yang ditunjukkan bale saat mengisi posisi tersebut cukup efektif.

Sebelumnya, pelatih Madrid terdahulu, Carlo Ancelotti, lebih sering menempatkannya sebagai winger kanan. Bale terlihat tidak nyaman dengan di posisi tersebut karena fokusnya terpecah di antara harus menyerang dan juga bertahan. Sehingga dia tidak bisa mengembangkan permainan, yang berujung pada kemarahan fans terhadap dirinya yang menganggap dirinya sebagai pemain termahal di dunia.

“Posisi itu adalah posisi terbaik saya. Ketika saya bermain untuk Tottenham saya merasa bisa dan telah mengeluarkan kemampuan terbaik saya. Begitu pun ketika saya bermain membela Wales, saya selalu ditempatkan di posisi itu. Bagi saya, itu adalah posisi terbaik saya,” jelas Bale, seperti mengutip Squawka, Kamis (6/8/2015).

“Dengan bermain di posisi itu, saya bisa bergerak ke kanan maupun ke kiri, saya bisa leluasa melakukan manuver dan itu persis seperti yang saya lakukan saat di Tottenham dan Wales. Sangat senang mendapat dukungan dari pelatih dan Presiden Florentino Perez, saya berjanji akan memberikan mereka sejumlah gol dan trofi,” tutupnya.